Friday, November 03, 2006

Papa Akid

Papa Akid:

1. Ingin ada kontak dengan papa yang sedang chau hu dan sambil nonton TV

2. Keadaan rumah seperti neraka, kasihan sama papa

3. E hiau si ka boi hiau chi

4. Papa tidak memberikan tanggungjawabnya sebagai orang-tua

5. Papa mendorong-kotak-kotak besar dari gudang Wan Hui

6. Papa mengangkat tanah liat dengan ember yang tajam

7. Kelihatan oleh papa aku buka celana sedang melihat Lanciau

8. Papa pulang larut malam dari kerja di Tanjung Johor. Menunggu papa pulang sering kali dengan rasa khawatir

Papa mendorong kotak-kotak besar untuk memagari belakang rumah

3) Papa mendorong kotak-kotak besar untuk memagari belakang rumah
· Papa mengambil kotak-kotak besar dari gudang Wan Hui, tempat yang tinggi dengan jalannya yang sulit. Papa bekerja keras. Habis pulang kerja sudah capek dan harus pergi mendorong kotak-kotak lagi. Wajah papa menunjukan dia bekerja keras, mengeluarkan banyak tenaga. Dia mengenakan baju kaos (seperti biasanya di rumah) dan dan berkeringat basah. Bagiku kotak yang papa dorong itu begitu besar dan berat. Aku mencoba untuk mendorong namun tidak bergerak dan papa harus mendorong kotak-kotak yang besar dan berat itu dari gudang Wan Hui yang jauh di atas tanjakan jalan. Aku merasa kasihan pada papa yang menanggung beban begitu berat. Jiwaku dan perasaanku seperti tertusuk-tusuk melihat papa mendorong kotak-kotak besar dan berat dengan tubuhnya yang berkeringat basah dan wajahnya yang menunjukan dia bekerja keras, mengeluarkan banyak tenaga. Aku ingin bantu papa tapi diriku terlalu kecil untuk dapat meringankan papa. Kotak-kotak itu lebih besar dari tubuhku. Aku memproyeksikan diriku sebagai diri papa yang mendorong kotak-kotak itu dan ini tentu terlalu berat bagiku sebagai anak kecil sehingga membuat jiwaku dan perasaanku merasa tertusuk-tusuk bila melihat papa yang bekerja keras, berkeringat basah dan wajah yang menyeringai karena mengeluarkan tenaga sebegitu banyak.
Erstelldatum 03/08/00 09:42

E hiau si ka boi hiau chi

2) E hiau si ka boi hiau chi
· Bisa beranak tidak bisa memelihar anak, maksudku bisa bernak namun tidak tahu memenuhi kebutuhan anaknya, tidak bisa memberikan kasih sayang, perhatian dan kehangatan kepada anaknya. Di TV aku mendengar anak memerlukan kasing sayang orang tua. Orang tua wajib memperhatikan anaknya dan memenuhi kebutuhan anaknya akan kasih sayang. Tapi apa yang aku alami dan kulihat di rumah seperti neraka. Mei Ing menangis memerlukan mama namun diterlantarkan sedangkan dia lebih senang melayani supir yang menitipkan mobil datsunnya. Teriakan-teriakan yang keras dari mama, kasar dan keras sungguh seperti neraka. Tidak ada kelembutan dan kasih sayang atau rasa menghargai dan memperhatikan anaknya. Melihat semua itu aku jadi tidak tahan dan memprotes:
"e hiau nsi ka boi hiau chi".
Papa yang kebetulan ada di situ mendengar kata-kataku dan mendengus:
"eh an cua ha ni".
Aku yang merasa tidak puas memprotes lagi: "e hiau nsi ka boi hiau chi".
Mama mengadu papa: "le nkua Kid".
Aku mengulangi lagi: : "e hiau nsi ka boi hiau chi".
Mama mengadu papa lagi: "le nkua Kid", "le nkua Kid".
Papa menjadi murka: "eh an ncua han ni".
Kemurkaan papa membuat aku sangat takut (takut akan ancaman bahaya dari seorang laki-laki dewasa) dan juga merasakan perasaan bersalah yang hebat. Keadaan papa waktu itu sudah sulit. Rumah bagaikan neraka. Keadaan ini kemungkinan besar sangat memberatkan dia juga selain diriku. Bukan maksud aku melukai papa, mengatai papa tidak mampu membiayai (boi hiu chi) anak-anaknya. Aku memprotes mama yang kasar, keras, tidak punya kasih sayang dan perhatian terhadap anaknya, yang lebih senang memberikan perhatiannya kepada orang lain, tukang supir sedan. Yang ingin kukeluarkan adalah bahwa mama hanya bisa melahirkan anak namun tidak bisa memberikan kasih sayang dan cinta kepada anaknya. Namun kata-kata ini tidak aku temukan dalam bahasa Hok Kein. Kalau aku bilang dia 'bo ntia ka' tidak sayang anak, dia percaya dia sayang pada anak-anaknya, walau yang dilakukannya terhadap anak-anaknya penuh dengan kekerasan, teriakan-teriakan keras dan sikap yang kasar dan merendahkan.
Erstelldatum 03/04/00 18:53

Ingin ada kontak dengan papa yang sedang chau hu dan sambil nonton TV

1) Ingin ada kontak dengan papa yang sedang chau hu dan sambil nonton TV
· Aku melihat papa duduk di depan TV kepala menunduk chau hu. Aku merasa hidup papa seperti tidak punya arti. Pulang kerja duduk di depan TV dan chau hu. Aku merasa punya kewajiban kelak untuk kasih papa jalan-jalan ke luar negeri. Perasaan punya kewajiban kepada orang tua dan adik-adik ini sebegitu pagi telah ditanamkan oleh mama harus seperti Leng Cua yang chi sio ti, chi sio be.
· Aku ingin bisa dekat dengan papa dan berusaha mengajak dia bicara. Kadang-kadang aku ikut papa ke pasat ma (tempat paman Hai Lam). Di samping toko pasat ma itu ada percetakan. Kertas buangannya mirip sekali dengan kertas karcis bioskop. Aku mengkhayal untuk mengambil kertas sisa yang berukuran sebesar karcis bioskop dan membuat karcis sendiri dengan cara menggambarkan pada kertas tersebut tiketnya. Ada bagian karcis yang berlobang dapat aku buat dengan tusuk paku tapi yang sulit adalah tulisan cetak. Aku tahu untuk membuat tulisan cetak pakai tangan itu tidak akan mungkin namun mengkhayal lebih ringan daripada menghadapi kenyataan hidup yang mengerikan ini.
· Aku mendekati papa dengan tujuan ada kontak dengan dia dan sekaligus melepaskan perasaanku sebagai seorang anak yang memerlukan papanya. Aku bercerita pada papa bahwa aku punya teman dia bisa membuat karcis sendiri dengan mengambil kertas seperti yang ada di percetakan sebelah rumah pasat ma (Aku mengharapkan papa menanggapi diriku dengan serius dan mengambil kertas yang kubutuhkan untukku). Kertas dari percetakan yang berwarna-warni lantas dituliskan huruf-hurufnya seperti yang tertera pada karcis bioskop dan karcisnyapun jadi dan dia dapat masuk ke bioskop, "u ia", aku menegaskan. Mendengar ceritaku dia ketawa. Ketawa yang tidak mempercayai ceritaku. Aku menegaskannya lagi: "ncia sit a, u ia". Dia ketawa sampai kedengaran suaranya. Aku jadi sangat malu, merasa khayalanku, cerita yang berasal dari fantasiku sendiri ketahuan oleh dia. Dia menarik diri dari pembicaraan denganku yang dari awal sudah pasiv. Aku lihat papa kurang tertarik untuk berbicara denganku. Dia lebih senang menenggelamkan diri dengan chau hu-nya dari pada berbicara denganku. Aku berjalan ke belakang dengan perasaan kecewa dan malu karena merasa ketahuan oleh papa bahwa ceritaku itu berasal dari khayalanku sendiri dan merupakan keinginanku sendiri untuk membuat tiket supaya bisa masuk ke bioskop. Aku merasa malu atas keinginanku sendiri karena setiap kebutuhanku selalu mendapat hukuman. Setiap kebutuhanku merupakan suatu kesalahan.
· Di belakang (ruang tengah) berbagai macam perasaan berkecamuk didalam diriku: perasaan bersalah, malu, ada jarak dengan papa, perasaan kosong dan tidak mengerti mengapa hidup ini begitu. Keluarga orang (yang aku lihat di TV) ada kebahagiaan. Orang-tua dan anak bisa akrab dan ada komunikasi timbal-balik. Mengapa keluargaku tidak ada komunikasi, mengapa begitu kering. Di belakang mama sibuk dengan kerjaannya dan marah-marah. Melihat diriku yang ada di ruang tengah mempersalahkan aku: "cia ka ha ni kuan tua kho lo, lau bu bo eng, bo nsiu kong lai tau sio kang". Kesalahan-kesalahan yang mama tujukan pada diriku membuat aku semakin tersiksa, semakin memberatkan diriku yang sudah berat. Aku merasa diriku ada di dalam neraka, namun aku tidak bisa keluar dari siksaan dalam diriku dan juga aku tidak melihat suatu saat bisa keluar, untuk terlepas dari siksaan ini. Hidup dalam keadaan demikian itu sangat berat, sangat unerträglich. Tidak ada harapan akan perubahan yang baik didalam keluarga dan tidak ada harapan untuk bebas dari unerträgliche Quallen didalam diriku.
Erstelldatum 03/04/00 17:35