Friday, November 03, 2006

Ingin ada kontak dengan papa yang sedang chau hu dan sambil nonton TV

1) Ingin ada kontak dengan papa yang sedang chau hu dan sambil nonton TV
· Aku melihat papa duduk di depan TV kepala menunduk chau hu. Aku merasa hidup papa seperti tidak punya arti. Pulang kerja duduk di depan TV dan chau hu. Aku merasa punya kewajiban kelak untuk kasih papa jalan-jalan ke luar negeri. Perasaan punya kewajiban kepada orang tua dan adik-adik ini sebegitu pagi telah ditanamkan oleh mama harus seperti Leng Cua yang chi sio ti, chi sio be.
· Aku ingin bisa dekat dengan papa dan berusaha mengajak dia bicara. Kadang-kadang aku ikut papa ke pasat ma (tempat paman Hai Lam). Di samping toko pasat ma itu ada percetakan. Kertas buangannya mirip sekali dengan kertas karcis bioskop. Aku mengkhayal untuk mengambil kertas sisa yang berukuran sebesar karcis bioskop dan membuat karcis sendiri dengan cara menggambarkan pada kertas tersebut tiketnya. Ada bagian karcis yang berlobang dapat aku buat dengan tusuk paku tapi yang sulit adalah tulisan cetak. Aku tahu untuk membuat tulisan cetak pakai tangan itu tidak akan mungkin namun mengkhayal lebih ringan daripada menghadapi kenyataan hidup yang mengerikan ini.
· Aku mendekati papa dengan tujuan ada kontak dengan dia dan sekaligus melepaskan perasaanku sebagai seorang anak yang memerlukan papanya. Aku bercerita pada papa bahwa aku punya teman dia bisa membuat karcis sendiri dengan mengambil kertas seperti yang ada di percetakan sebelah rumah pasat ma (Aku mengharapkan papa menanggapi diriku dengan serius dan mengambil kertas yang kubutuhkan untukku). Kertas dari percetakan yang berwarna-warni lantas dituliskan huruf-hurufnya seperti yang tertera pada karcis bioskop dan karcisnyapun jadi dan dia dapat masuk ke bioskop, "u ia", aku menegaskan. Mendengar ceritaku dia ketawa. Ketawa yang tidak mempercayai ceritaku. Aku menegaskannya lagi: "ncia sit a, u ia". Dia ketawa sampai kedengaran suaranya. Aku jadi sangat malu, merasa khayalanku, cerita yang berasal dari fantasiku sendiri ketahuan oleh dia. Dia menarik diri dari pembicaraan denganku yang dari awal sudah pasiv. Aku lihat papa kurang tertarik untuk berbicara denganku. Dia lebih senang menenggelamkan diri dengan chau hu-nya dari pada berbicara denganku. Aku berjalan ke belakang dengan perasaan kecewa dan malu karena merasa ketahuan oleh papa bahwa ceritaku itu berasal dari khayalanku sendiri dan merupakan keinginanku sendiri untuk membuat tiket supaya bisa masuk ke bioskop. Aku merasa malu atas keinginanku sendiri karena setiap kebutuhanku selalu mendapat hukuman. Setiap kebutuhanku merupakan suatu kesalahan.
· Di belakang (ruang tengah) berbagai macam perasaan berkecamuk didalam diriku: perasaan bersalah, malu, ada jarak dengan papa, perasaan kosong dan tidak mengerti mengapa hidup ini begitu. Keluarga orang (yang aku lihat di TV) ada kebahagiaan. Orang-tua dan anak bisa akrab dan ada komunikasi timbal-balik. Mengapa keluargaku tidak ada komunikasi, mengapa begitu kering. Di belakang mama sibuk dengan kerjaannya dan marah-marah. Melihat diriku yang ada di ruang tengah mempersalahkan aku: "cia ka ha ni kuan tua kho lo, lau bu bo eng, bo nsiu kong lai tau sio kang". Kesalahan-kesalahan yang mama tujukan pada diriku membuat aku semakin tersiksa, semakin memberatkan diriku yang sudah berat. Aku merasa diriku ada di dalam neraka, namun aku tidak bisa keluar dari siksaan dalam diriku dan juga aku tidak melihat suatu saat bisa keluar, untuk terlepas dari siksaan ini. Hidup dalam keadaan demikian itu sangat berat, sangat unerträglich. Tidak ada harapan akan perubahan yang baik didalam keluarga dan tidak ada harapan untuk bebas dari unerträgliche Quallen didalam diriku.
Erstelldatum 03/04/00 17:35

0 Comments:

Post a Comment

<< Home